Si Om Pemuas Nafsu

Oleh Chika Pada 07 September 2016 - 23:07

Si Om Pemuas Nafsu


Si Om Pemuas Nafsu

CerpenHot.us, Om Ical, 47 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Dita karena dia sering bertandang di rumah sahabatnya ini. Pada penampilan luarnya Om Ical bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai bisa berhubungan dengan Dita ini awalnya cukup konyol. Secara kebetulan keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan perbuatan iseng. Om Ical saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan tetapnya dan Dita saat itu sedang digandeng dr. Hadi.

Keduanya jelas-jelas bertemu di sini sama-sama tidak bisa mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara pura-pura saling tak kenal.

Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu di kesempatan tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Dita mengaku hubungannya dengan dr.Hadi karena kena bujuk rayu diajak beriseng dan cuma dengan laki-laki itu saja, sedang Om Ical mengaku bahwa dia terpaksa mencari pelarian karena Tante Vera, istrinya, katanya sudah kurang bergairah menjalankan kewajibannya sebagai istri di ranjang. Masuk akal bagi Dita karena dilihatnya Tante Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus bisnis berliannya ketimbang mengurus suami dan keluarganya. Itu sebabnya Mifta, salah satu anaknya juga jadi bebas dan liar di luaran.

Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau rahasianya terbongkar di luaran. Dita takut hubungannya dengan dr.Hadi didengar orang tuanya sedang Om Ical juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak. Berikutnya karena terlanjur sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain. Ide ini terlontar oleh Om Ical yang coba merayu Dita ternyata diterima baik oleh Dita.

Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Om Ical akan menjemput dan membawa Dita ke sini, Dita meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng dengan Om Ical tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Om Ical, sempat kikuk malu dia dengan laki-laki yang ayah sahabatnya ini.

Pasalnya Om Ical yang sebenarnya juga sama tegang karena kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Dita didiamkan begini jadi salah tingkah menghadapinya.beritaseks.com Tapi waktu sudah masuk kamar sini dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar keluwesan Om Ical dalam bercumbu. Dita pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya kalau sedang menghadapi dr.Hadi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si Om tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Om Ical menawarkan makan pada Dita tapi ditolak karena masih merasa kenyang.

“Aku minta rokoknya Om.. Dita pengen ngerokok.” pinta Dita sebagai alternatif tawaran Om Ical.

“Oh ngerokok juga? Iya ada, mari Om yang pasangin. Om nggak tau kalo Dita juga ngerokok.”

“Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Om ke Sini.” jelas Dita menunjukan kepolosannya.

“Kok sama, Om juga sempat tegang waktu bawa Dita di mobil tadi, takut kalo ada yang ngeliat.”

Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam perjalanan. Dita mulai menggoda Om Ical. “Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Om?” godanya dengan genit.

“Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang.” jawab Om Ical setelah membakar sebatang rokok buat Dita yang sudah langsung menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Om Ical. “Mana, katanya mau pasangin buat Dita?” “Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya Om musti cium dulu..” Menutup kalimatnya Om Ical langsung menyerobot bibir Dita memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Dita hanya setelah itu dia menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Om Ical sambil menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Om Ical. Melihat ini Om Ical semakin berlanjut.

“Bajunya basah keringetan nih, Om bukain ya biar nggak kusut?” katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang mulai mencoba melepas kancing baju Dita. Lagi-lagi Dita tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Om Ical bekerja sendiri malah dibantu menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia tinggal mengenakan kutang saja. Dita memang sudah terbiasa bertelanjang di depan lelaki, jadi santai saja sikapnya. Tetapi ketika tangan Om Ical menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Dita menggelinjang manja.

“Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, Om juga buka dulu bajunya?”

“Iya, iya, Om juga buka baju Om..” Segera Om Ical melucuti bajunya satu persatu sementara Dita bergeser duduknya ke sebelah. Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya, dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Dita. Sekarang baru dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Om Ical mengerti bahwa Dita masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Dita bersandar dalam pelukan di dadanya. Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Dita sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya.

“Dita kurus ya Om?” tanya Dita sekedar menghilangkan salah tingkah karena susunya mulai digerayangi Om Ical. “Ah nggak, malah bodimu bagus sekali Ta.” jawab Om Ical memuji Dita apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah menggiurkan.

“Tapi Om kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Dita liat ceweknya montok banget..” “Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi sih? Maunya nyari yang cakep kayak Dita gini. Kalo ini baru asyik..” rayu Om Ical sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Dita yang kebetulan terletak di bagian depan. “Om sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik duluan?” “Justru karena yakin maka Om berani bilang gitu. Coba aja pikir, ngapain Om sampe berani ngajak Dita padahal jelas-jelas udah tau temen baiknya Mifta, ya nggak? Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik ditemenin cewek secakep Dita, tentu Om nggak akan nekat gini. Udah lama Om seneng ngeliat kamu Dit.”

Dita kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan berDiar-Diar bangga di wajahnya. Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai diremas tangan Om Ical. “Emangnya, Om seneng sama Dita sejak kapan? Kayaknya sih Dita liat biasa-biasa aja?” “Dari Dita mulai dateng-dateng ke rumah Om udah ketarik sama cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan? Tiap kali ngeliat rasanya gemeesss sama kamu..” bIcalanya menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja. “Aaa.. gemes mau diapain Om?!” “Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau juga diremes-remesin gini.. sshmmm..” jawab Om Ical dengan memperlihatkan contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Dita. “Terusnya apalagi?” “Terusnya yang terakhir ininya.. Apa sih namaya ini?” tanya canda Om Ical yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan Dita, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan merangsang itu.

“Itu bilangnya.. memek.” jawab Dita dengan menoleh ke belakang sambil menggigit kecil bibir Om Ical. Bahasanya vulgar tapi Om Ical malah senang mendengarnya. “Iya, kalau memek Dita ini dimasukin Om punya, boleh kan?” “Dimasukin apa Om..?” “Ini, apa ya bilangnya?” tanya lagi Om Ical dengan mengambil sebelah tangan Dita meletakkan di jendulan penisnya. “Aaa.. ini kan bilangnya ******.. Dimasukin ini bahaya, kalo hamil malah ketauan orang-orang Om?” Dita bergaya pura-pura takut tapi tangannya malah meremas-remas jendulan penis itu. “Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja. Nanti Om beliin pil pencegah hamilnya.” “Tapinya sakit nggak?” tanya Dita sambil mematikan rokoknya ke asbak.

“Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?” Om Ical mengajak tapi sambil membopong Dita pindah ke tempat tidur untuk masuk di babak permainan cinta. Di Sini Dita mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Dita sudah pernah begini dengan dr.Hadi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis remaja seperti dia. Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.

“Ahahhggg.. gellii Omm.. Sshh.. iihh.. Om sakit gitu.. sssh.. hnggg..”

Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa senang, yang begini justru memancing si Om makin menjadi-jadi. Om Ical yang nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status hubungannya dengan Dita apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini. Anak gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya.

Dita yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi bagian susunya dihisap saja sudah membuat Om Ical buntu dalam asyik. Sibuk mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Dita di bagian terakhir memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti ****** kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak peduli tingkatan kesopanan lagi.

Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli yang terlalu menyengat.

“Ssshh.. aahnggg.. geliii.. Omm..” Om Ical seru memuasi rasa mulutnya yang tentu saja membuat Dita terangsang tinggi dalam tuntutan birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan si Om betul-betul memuaskan sekali. Pada gilirannya Om Ical merasa cukup dan menyambung untuk mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di ranjanglah baru terasa asyiknya penis ayah sahabatnya.

Sewaktu partama dimasuki, Dita masih memejamkan mata, dia baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak ketat sedikit rasanya. Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa mengira-ngira seberapa besar batang itu. “Aahshh..” dia mengerang dengan gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Om Ical agar tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Dita lewat kata-kata tapi Om Ical mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk sambil membor penisnya lebih kalem.

Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa dulu tubuhnya turun menghimpit Dita lalu dari situ dia berlanjut membor sambil mulai memompa pelan naik turun pantatnya. Untuk beberapa saat masuknya batang diterima Dita masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai bisa menyesuaikan dengan ukuran Om Ical. Dia pun mulai meresapi nikmatnya batang Om Ical.

“Wihhh.. ennaak sekalii!” begitu ketat dan begitu mantap gesekannya membuat Dita langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru dibukanya dengan batang kenikmatan Om Ical. Saking asyiknya kedua tangan dan kakinya naik mencapit tubuh Om Ical seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan penis dengan putaran vaginanya yang mengocok.

Disambut kehangatan begini Om Ical tambah bersemangat memompa, semakin lebih terangsang dia karena Dita meskipun tidak bersuara tapi gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan menggaruk kepala Om Ical, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan memanjat tubuh si Om.beritaseks.com Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak permainan, tambah tidak beraturan Dita menggeliat-geliat. Sementara itu si Om yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulaDiya. Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara bersamaan. Dita yang mulai duluan dengan memperketat belitannya.

“Aduuhh.. ayyuhh.. Omm.. shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahhh.. hgh.. aaahh.. aeh.. ahduhh.. sshhh Om.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Di..” saling bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan dengan sentakan-sentakan erotis. Sama-sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dalam jumpa pertama ini, sehingga ketika mereda keduanya pun menutup dengan saling mengecup mesra, gemas-gemas sayang tanda senangnya. Begitu nafas mulai tenang, Dita memberi isyarat menolak tubuh Om Ical meminta lepas, tapi sementara si Om berguling terlentang di sebelah, dia sudah mengejar, memeluk dengan memegang batangnya dan merebahkan kepalanya di dada Om Ical. Meremas-remas gemas sambil memandangi batang yang masih mengkilap lengket itu.

“Bandel nihh.. maen nyodok aja?” komentar Dita sambil menarik penis Om Ical. “Abis kamunya juga bikin penasaran aja sih?” balas Om Ical dengan tangannya merangkul leher bermain lagi di susu Dita. “Om seneng ya sama aku?” “Oo.. jelas suka sekali Sayaang.. Abis, kamu memang cantik, memeknya juga enak sekali..” kali ini dagu Dita diangkat, bibirnya digigit gemas oleh Om Ical. Dita langsung berDiar bangga dengan pujian itu. Itu pembukaan hubungan gelap mereka yang sejak itu berlangsung secara sembunyi-sembunyi dengan jadwal rutin karena masing-masing seperti merasa ketagihan satu sama lain. Om Ical jelas senang dengan teman kencan yang cantik menggiurkan ini. Permainan selalu memilih tempat di sini di luar kota tapi sekali pernah Dita mendapat pengalaman yang unik serta konyol di rumah Om Ical sendiri.

Suatu hari Tante Vera sedang berbisnis ke luar kota ketika Dita datang bertandang siang itu untuk menemui Mifta.beritaseks.com Kedua gadis itu memang membuat janji akan jalan-jalan ke mall sore nanti tapi karena waktunya masih jauh, Mifta mempergunakannya untuk keluar rumah sebentar. Om Ical yang membuka pintu dan dia sendiri ketika melihat ada peluang yang baik langsung memanfaatkannya, karena begitu Dita masuk sudah disambut dengan telunjuk di bibir memaksudkan agar Dita tidak bersuara. Dita sempat heran tapi ketika digandeng ke kamar Om Ical dia kaget juga, segera mengerti tujuannya. “Iddihh Om nekat.. nanti ketauan Om.. Mifta memangnya ke mana?” katanya tapi dengan nada berbisik panik. “Sst tenang aja.. Kita aman, Mifta lagi pergi sebentar, Tante lagi keluar kota sedang Hari lagi tidur..” jelas Om Ical. Hari adalah adik laki-laki Mifta yang duduk di kelas III SMP. Masih ada seorang lagi adik Mifta bernama Hendi yang duduk di kelas I SMA tapi dia tinggal dengan neneknya di Malang.

“Iya tapi gimana kalo Mifta dateng Om?” “Kan nggak ada yang tau kalau Dita udah di sini. Mereka nggak bakalan berani masuk kamar Om. Acaramu kan Om denger masih nanti malem, kita bikin sebentar di sini yaa?” “Tapi Om.?” “Udahlah di sini aja dulu, Om mau ke luar sebentar. Tuch denger, kayaknya Hari udah bangun. Nih, Om tebus waktumu untuk jajan-jajan sama Mifta nanti,” kata Om Ical langsung memotong protes Dita dengan mengulurkan sejumlah uang yang cepat diambilnya dari dompetnya untuk membujuk Dita. Setelah itu segera dia keluar kamar meninggalkan Dita yang karena merasa sudah terjebak terpaksa tidak berani keluar takut kepergok Hari. Melirik uang yang digenggamnya sepeninggal Om Ical, hati Dita menjadi lunak lagi karena si Om memang pintar mengambil hati dan selalu royal memberi jumlah yang cukup menghibur. Meskipun begitu dia menguping dari balik pintu mendengarkan situasi di luar dengan hati berdebar tegang. “Pak, barusan kayaknya ada yang dateng kedengeran pintu kebuka?” terdengar suara Hari menanyai ayahnya. “Ah nggak ada siapa-siapa kok, barusan memang Bapak yang buka pintu.”

Baru saja sampai percakapan ini, tiba-tiba terdengar suara motor Mifta memasuki pekarangan. Tidak lama kemudian dia masuk ke rumah dan terdengar menanyai adiknya. “Har, barusan Mbak Dita Singgah ke sini nggak?” “Nggak tau, aku juga baru bangun..” “Oh ya? Padahal Mbak Mifta Singgah barusan ke rumahnya, Mamahnya bilangnya ke sini?” “Ya mungkin aja Dita tadi ke sini tapi ngira kamu nggak ada, jadi pergi ke tempat lain dulu.” kali ini Om Ical ikut menimbrung pembIcalaan. “Iya tapi aku ada janji sama dia nanti sore-sorean. ” “Oo.. kalo gitu paling-paling sebentar juga ke Sini.” putus Om Ical menghibur anaknya. Hening sebentar dan tidak lama kemudian terdengar suara Om Ical memesan kedua anaknya agar jangan ada tamu atau telepon yang mengganggunya karena dia beralasan agak tidak enak badan dan akan tidur siang. Sesaat setelah itu dia pun masuk disambut Dita yang bersembunyi di balik pintu langsung mencubit gemas lengannya tapi tidak bersuara, geli dengan sandiwara yang barusan didengarnya.

Om Ical tersenyum dan menggayut pinggang Dita, menggandengnya ke tempat tidur. Dita menurut karena tahu kalau menolak maka Om Ical akan membujuknya terus, daripada berlama-lama lebih baik memberi saja agar waktunya lebih cepat selesai. Langsung diikutinya ajakan Om Ical untuk membuka baju, hanya saja masih bingung jika permainan telah usai. “Tapi nanti aku ke luar dari Sininya gimana Om..?” tanyanya sambil menyampirkan celana dalamnya sebagai kain penutup terakhirnya yang dilepas.

“Gampang, Om pura-pura aja nyuruh mereka berdua keluar beli makanan, di situ Dita bisa aman keluar dari Sini.” “Ngg.. Om bisa aja akalnya..” Dita sedikit lega. “Om kalo mikirin yang itu sih gampang. Sekarang yang Om pikirin justru ngeluarin isinya barang ini yang enak gimana caranya.” timpal Om Ical seraya mendekatkan tubuhnya yang sudah sama bertelanjang bulat dan mengambil tangan Dita untuk diletakkan di batang penisnya yang masih menggantung lemas.

Dita malu-malu manja tapi tangannya langsung menangkap batang itu, menarik-narik, melocoknya dengan genggaman kedua tangannya sambil memandangi benda itu. “Yang enak tuh kayak apa sih?” godanya mulai bersikap manja-manja genit. “Yang enaknya.. ya jelas pake ini Di.” jawab Om Ical balas menjulurkan tangannya meremas selangkangan Dita. “Iddihh si OOm.. pengennya yang itu aja?” Dita pura-pura jual mahal.

“Abisnya barang enak, jelas kepengen Di..” kata Om Ical sambil mulai mengajak Dita berciuman. Dita memang memberi bibirnya tapi dia masih kelihatan setengah hati untuk balas melumat hangat, terlebih ketika akan diajak naik tempat tidur dia seperti merasa berat. “Nggak enak ah Om, sungkan aku itu tempat tidurnya Tante..” katanya mengutarakan perasaannya yang tidak enak untuk bermain cinta di tempat tidur keluarga itu. Om Ical rupanya bisa mengerti perasaan Dita, dia tidak memaksa tapi menoleh sekeliling sebentar dan cepat saja menemukan cara yang lain.

“Ya udah kalo gitu kita bikin sambil berdiri aja. Sini Om yang atur, ya?” katanya sambil membawa Dita ke arah kaki tempat tidur dan menyandarkan tubuh Dita di palang-palang besi tempat tidur itu. Om Ical memakai tempat tidur mahal tapi model kuno yang terbuat dari besi lengkap dengan tiang-tiang penyangga kelambunya. Di situ pantat Dita disandarkan di pagar bawah tempat tidur yang tingginya pas menyangga pantatnya, sedang kedua tangannya diatur Om Ical melingkar di sepanjang besi melintang di antara dua tiang kelambu bagian kaki tempat tidur yang tingginya setinggi punggung, sedemikian rupa sehingga tubuhnya tersandar menggelantung di besi melintang itu hampir pada masing-masing ketiak Dita. Suatu posisi yang unik untuk bersanggama dalam gaya berdiri karena setelah itu Om Ical mengambil dua ikat pinggang terbuat dari kain, lalu mengikat masing-masing lengan Dita pada besi melintang itu.

Dita menurut saja memandangi geli sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan Om Ical. Berikutnya barulah Om Ical mulai merangsang dengan menciumi dan menggerayangi sekujur tubuh Dita dari mulai atas hingga ke bawah. Berawal mengerjai kedua susu Dita dengan remasan dan kecap mulutnya dan kemudian berakhir mengkonsentrasikan permainan mulut itu di selangkangannya, membuat Dita yang semula setengah hati mulai naik terangsang. Malah terasa cepat karena posisi kedua tangannya tidak bisa ikut membalas ini menimbulkan daya rangsang yang luar biasa. Apalagi ketika mulut Om Ical mulai memberi rasa geli-geli enak di vagina yang tidak bisa ditolak kepalanya kalau geli terlalu menyengat.

Begitu tengah sedang asyik-asyiknya permainan pembukaan ini, di teras depan Mifta terdengar mengalunkan suaranya berduet mengiringi Hari dalam permainan gitarnya. Konyol memang buat Mifta, sahabat yang sedang ditunggu-tunggu untuk janji pergi bersama, ternyata sudah sejak tadi ada di dalam kamar rumahnya sendiri, sedang meliuk-liuk keenakan saat vaginanya dikerjai mulut ayahnya, malah sudah tidak tahan rangsangan gelinya yang menuntut untuk lebih terpuaskan lewat garukan mantap penis ayah Mifta sendiri. “Ayyohh Om.. janggan lama-lama.. masukkin dulu Om punnyaa..” bahkan rintih Dita sudah meminta Om Ical segera mulai bersenggama. Om Ical tidak menunggu lebih lama. Dia segera bangun dan membawa penisnya yang setengah menegang menempel di celah vagina Dita.

Membasahi dulu dengan ludahnya, menggosok-gosokan ujung kepala bulatnya di klitoris Dita agar menjadi lebih kencang lagi,beritaseks.com baru setelah itu mulai diusahakan masuk ke dalam lubang vagina di depannya. Dita menyambut seolah tidak sabaran, menjinjitkan kakinya untuk mengangkangkan pahanya selebar yang bisa dilakukannya tanpa bisa membantu dengan tangannya. Dia terpaksa menunggu Om Ical bekerja sendiri menguakkan bibir vagina dengan jari-jarinya agar bisa menyesapkan kepala penisnya terjepit lebih dahulu, baru kemudian ditekan membor masuk. Meningkat kemudian lagu-lagu cinta Mifta yang berduet dengan Hari mengalun romantis, ini senada dengan Dita yang saat itu juga sedang merintih lirih, mengalunkan tembang nikmat ketika vaginanya mulai disodok dan digesek ke luar masuk penis tegang Om Ical. “Ngghh.. OOmm.. Sssh.. hhshh.. ngghdduuh.. sshsmm.. hdduhh Omm.. ennakk.. sshhh.. mmmh.. heehhs.. adduhh..” mengaduh-aduh rintih suaranya tapi bukan kesakitan melainkan sedang larut dalam nikmat.

Kalau tadi Dita masih setengah hati untuk melayani nafsu Om Ical, sekarang dia juga ikut merasa keenakan, karena bermain dalam variasi posisi berdiri ini terasa santai dan mengasyikan sekali baginya. Tidak repot menahan tubuhnya tetap berdiri karena bisa menggelantung dengan kedua lengannya, sambil menerima tambahan enak tangan Om Ical yang meremas-remas kedua susunya, memilin-milin geli putingnya, dia juga bisa ikut mengimbangi sodokan penis ini dengan kocokan vaginanya.

Malah tidak berlama-lama lagi, ketika Om Ical sudah serius tegang akan tiba dipuncaknya Dita pun mengisyaratkan tiba secara bersamaan. “Aduuhh.. Omm.. ayoo.. sshh.. duh Dita mau keluarr.. sssh.. hhgh.. OOmm..” desah Dita tertahan. “Aduhhssh.. Iya ayoo Di.. Om juga sama-samaa.. aahghh..” segera mengejang Dita menyentak-nyentak ketika orgasme sinikuti Om Ical tiba di ejakulasinya. Cerita Dewasa ini pun usai dengan kepuasan sebagaimana biasa yang didapati keduanya setiap mengakhiri jumpa cinta mereka.


Share On Facebook
Share On Twitter

Kategori: Cerita Sex ABG, Cerita Sex Selingkuh,
Label: hot selingkuh sex abg

Belum ada komentar